BATAMSTRAITS.COM, BATAM – Sejumlah warga di Kecamatan Batam Kota dan Nongsa Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mengeluh soal sampah yang hanya diangkut sekali dalam seminggu. Kondisi ini menyebabkan sampah menumpuk, menimbulkan bau tak sedap, belatung hingga mengundang lalat di lingkungan warga.
Sejumlah warga di kawasan Batam Kota mengaku persoalan pengangkutan sampah lambat sudah berlangsung dalam beberapa bulan terakhir dan belum mendapat solusi maksimal. Padahal sebelumnya penangkutan dilakukan dalam dua kali seminggu.
“Sekarang diangkut setiap Rabu. Beberapa bulan lalu, Rabu dan Sabtu,” ujar Warga di Perumahan Bukit Raya Batam Centre, Nur, Rabu (20/5/2026).
Menurutnya, lambatnya pengangkutan membuat warga kesulitan membuang sampah rumah tangga setiap hari.
“Tempat sampah cepat penuh. Mau buang juga bingung karena belum diangkut. Akhirnya menumpuk di pinggir jalan,” katanya.
Sementara itu, Warga Perumahan Botania, Dedy mengaku tumpukan sampah di lingkungannya kerap menggunung sebelum diangkut petugas.
“Kadang sampai seminggu baru diangkut. Kalau hujan makin parah karena bau dan air sampah keluar ke jalan,” ujarnya.
Sementara itu, warga Perumahan Arira Nongsa, Sulastri berharap pemerintah segera memperbaiki sistem pengangkutan sampah agar lebih rutin.
“Kalau seminggu sekali jelas tidak cukup. Apalagi kawasan perumahan padat penduduk. Bau sampah sangat mengganggu,” ungkapnya.
Menanggapi kondisi tersebut, Sekretaris Badan Riset dan Inovasi Daerah Kota Batam, Aidil Sahalo, mengatakan keterlambatan pengangkutan sampah di Batam dipengaruhi beberapa faktor mendasar.
Menurutnya, jumlah armada pengangkut sampah saat ini masih belum ideal, baik dari sisi jumlah maupun jenis kendaraan yang dibutuhkan.
Selain itu, titik kumpul sampah seperti TPS dan bin container juga belum tersebar merata di seluruh wilayah Kota Batam. Akibatnya, sistem pengangkutan masih banyak dilakukan langsung dari rumah ke rumah atau door to door.
“Pengangkutan door to door ini menyita waktu, tenaga, dan biaya lebih besar sehingga belum efisien,” kata Aidil.
Ia menjelaskan, dalam kajian optimalisasi pengangkutan sampah yang dilakukan tim ahli, pemerintah direkomendasikan segera menambah titik kumpul sampah berupa TPS maupun bin container agar pengangkutan lebih efektif menuju TPA.
Kajian tersebut juga merekomendasikan penyesuaian jumlah dan tipe kendaraan berdasarkan tonase sampah serta pengaturan rute pengangkutan berbasis zonasi atau kecamatan.
Selain itu, tim ahli juga menyarankan sistem pengangkutan sampah dilakukan melalui swastanisasi secara bertahap. Dari tiga zona pengangkutan sampah di mainland Batam, dua zona direncanakan akan dikelola pihak swasta hingga masa transisi tahun 2031.
Aidil berharap langkah tersebut nantinya dapat meningkatkan efektivitas pengangkutan sampah dan mengurangi keluhan masyarakat terkait sampah yang lama diangkut. (uly)









