Friday, July 19, 2024
HomeNasionalSejarah Rohingya dan Konfliknya di Myanmar, Kini Diusir Paksa oleh Mahasiswa Aceh

Sejarah Rohingya dan Konfliknya di Myanmar, Kini Diusir Paksa oleh Mahasiswa Aceh

BATAMSTRAITS.COM – Para imigran Rohingya masih menjadi topik perbincangan hangat hingga kini. Terbaru, mereka diusir paksa oleh ratusan mahasiswa dari tempat penampungan sementara di Gedung Balee Meuseuraya Aceh (BMA).

Mereka dipaksa diusir dari sana menuju kantor Kemenkumham Aceh, pada Rabu (27/12/2023). Adapun massa mencakup para mahasiswa dari Universitas Al Washliyah, Universitas Abulyatama, hingga Bina Bangsa Getsempena.

Dalam sebuah video yang viral di media sosial, para mahasiswa itu tampak menarik paksa dan melakukan tindakan kekerasan. Mulai dari melempari botol ke arah wanita dan anak-anak hingga menendang barang-barang di sekitar.

Para pengungsi menangis ketakutan dan aparat sendiri kewalahan menangani hal ini karena jumlah massa yang terlalu banyak. Kejadian itu lantas turut membuat penasaran akan sejarah Rohingya dan konfliknya di Myanmar.

Sejarah Rohingya dan Konflik di Myanmar

180 Pengungsi Rohingya Singgah ke Disdukcapil Pidie. [Antara]

Rohingya adalah suatu kelompok etnis Muslim yang hidup di Myanmar selama beratus-ratus tahun sejak 1842. Mereka bisa dianggap sebagai kaum minoritas karena penduduk negara tersebut mayoritas memeluk agama Buddha.

BACA JUGA:   BREAKING NEWS: Truk Rombongan Pengangkut Massa Pengantar Jenazah Lukas Enembe Terbakar

Hal itu yang membuat pemerintah Myanmar menyangkal kewarganegaraan Rohingya hingga mengecualikan mereka dari sensus pada tahun 2014. Pemerintah menganggap mereka sebagai imigran ilegal dari Bangladesh.

Rohingya menjadi populasi Muslim terbesar di Myanmar dengan jumlah penduduk sekitar satu juta jiwa pada awal tahun 2017. Adapun sebagian besar Rohingya hidup di negara bagian Myanmar yang bernama Rakhine.

Mereka diketahui penghuni daerah Arakan yang dipimpin oleh Raja Suleiman Shah pada tahun 1420. Sang raja ini sebelumnya merupakan raja Buddhis bernama Narameikhla. Namun, kerajaan itu diambil alih oleh Myanmar.

Rohingya pun sempat dijajah oleh Inggris hingga Jepang yang menyerang Burma atau Myanmar pada tahun 1942. Selang enam tahun, Myanmar merdeka dan setelahnya terjadi ketegangan antara pemerintah dengan Rohingya.

Mereka ditolak untuk menjadi warga negara Burma hingga dikucilkan. Atas dasar ini, warga Rohingya menerima beragam perlakuan buruk dari warga setempat. Mulai dari ancaman, pembunuhan, hingga pemerkosaan.

Untuk itu, Rohingya memutuskan keluar dari Myanmar demi menghindari kekerasan tersebut. Adapun menurut berbagai sumber, mereka mengalami aksi kekerasan besar-besaran di Rakhine pada 25 Agustus 2017 silam.

BACA JUGA:   Asal Usul Pengungsi Rohingya yang Mengundang Polemik di RI

Konfliknya sendiri berawal pada Mei 2012. Kala itu, beredar foto hasil forensik perempuan etnis Rakhine yang dibunuh tiga pemuda. Setelahnya, pemuka agama dan masyarakat Rakhine pun mulai membunuh etnis Rohingya.

Lalu, pada Juni 2012, Thein Sein yang saat itu menjabat sebagai presiden Myanmar memilih untuk mendeportasi Rohingya serta mengumpulkannya di tempat penampungan. Akibat konflik ini, ada 140 ribu etnis Rohingya yang terusir.

Selain itu, sebanyak 800 orang tidak memiliki kewarganegaraan serta hampir 60 ribu orang kehilangan rumah. Rohingya pun terpaksa meninggalkan Myanmar dan pergi mengungsi ke berbagai negara seperti Indonesia.

Di Indonesia sendiri, pengungsi Rohingya menerima pandangan negatif dari warga setempat. Beragam narasi kebencian terhadap mereka terus digaungkan hingga ratusan mahasiswa Aceh berani mengusir paksa. Bahkan, disertai aksi kekerasan.

sumber: Suara.com

spot_img
BERITA TERKAIT
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

BERITA POPULER